DIRIWAYATKAN bahwa pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab Ra menjabat sebagai kepala negara Islam, beliau mendapat kiriman surat dari sahabatnya, Musa al Asy’ari Ra, yang beliau tugaskan menjadi Gubernur di Kuffah (sekarang Irak). Isi suratnya adalah mengomentari surat Umar Ra yang pernah menulis surat kepada dirinya namun tidak mencantumkan tanggal;
Musa al Asy’ari telah menulis surat kepada Umar bin Khaththab. Sesungguhnya telah sampai kepadaku beberapa surat dari Anda yang padanya tidak dibubuhi tanggal.
Betapa mendapat kiriman surat seperti itu, Umar bin Khaththab Ra lantas mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah membicarakan tentang pentingnya umat Islam membuat penanggalan sendiri diluar penanggalan yang sudah ada saat itu. Diantara pendapat yang muncul dalam musyawarah tersebut ada yang mengusulkan supaya kalender Islam dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad Saw. Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari saat Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul. Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari saat Rasul di-IsraMi’raj-kan. Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari saat wafatnya Nabi Muhammad Saw.
Lalu, Ali bin Abi Thalib Ra mengajukan pendapat agar kalender Islam dimulai dari saat tahun hijrahnya Rasul dari Mekah ke Madinah. Hal itu mengingat pentingnya peristiwa hijrah dalam perjuangan dakwah Rasul Saw yang menandakan berpindahnya umat Islam dari kekuasaan kufur dan batil menuju kekuasaan Islam yang mandiri. Maka, akhirnya semua sepakat untuk mengambil pendapatnya Imam Ali tersebut.
Begitulah sejarah Tahun Hijriyah, tahunnya umat Islam. Lalu kalau begitu, tahun baru yang selama ini selalu dirayakan oleh mayoritas generasi muda Islam setiap malam tanggal 1 Januari itu tahunnya siapa???
KALENDER yang sekarang ini dipake sehari-hari di dunia secara umum itu namanya Kalender Masehi. Kata ini berasal dari bahasa Arab, al-Masih (menghapus, menyapu), yang merupakan gelar bagi Nabi Isa As. Kenapa dinamai demikian, karena penetapan awal tahun kalender tersebut merujuk pada tahun yang ‘dianggap’ sebagai kelahiran Nabi Isa As. Selain Masehi, istilah lain yang biasa digunakan adalah Christ (Inggris: Kristus), Common Era (CE) dan Anno Domini (Latin: Tahun Tuhan kita). Dan untuk menyebut tahun sebelum masehi biasanya digunakan istilah Before Christ (BC), Before Common Era (BCE), atau Sebelum Masehi (SM).
Kalender Masehi ini memiliki akar sejarah yang kuat dengan tradisi astrologi Mesir Kuno, Mesopotamia, Babel, Yunani dan Romawi Kuno, yang pada akhirnya mendapat ‘sentuhan’ kalangan Gerejawan. ‘Sentuhan’ tersebut terlihat dari adanya instruksi pimpinan gereja pada tahun 527 M kepada seorang biarawan Katolik bernama Dionisius Exoguus untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Jesus Christ (Yesus Kristus). Dan juga terlihat dari adanya keputusan[1] yang dikeluarkan pimpinan Gereja Katolik di Roma pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII, yang menetapkan (lagi[2]) 1 Januari sebagai tahun baru yang hingga kini dunia mengikuti keputusannya tersebut dan merayakannya[3].
Begitulah sekilas tentang sejarah Tahun Masehi. Maka sekarang jadi jelas, tahun barunya siapa sebetulnya yang selama ini selalu dirayakan oleh mayoritas generasi muda Islam setiap malam tanggal 1 Januari itu. Jadi, masih tertarik untuk taun baruan?
SAYA yakin, para LiCoFellow adalah generasi muda yang memiliki identitas keislaman yang jelas, yang tingkah laku dan agamanya satu warna, yaitu warna Islam. Menyatunya antara tingkah laku dan agama itulah yang akan membuat kita istimewa di hadapan Allah Swt sehingga digelari Mu’min, yaitu orang yang beriman. Sementara, orang-orang yang tingkah lakunya tidak satu warna dengan agamanya kedudukannya sangat hina dengan gelar yang buruk:
1. Munafik
Gelar ini perumpamaannya seperti bencong; ‘casing’ cewe’ mesin cowo’, KTP Islam kelakuan eusleum[4], ngaku Islam tapi kelakuan seperti orang kafir.
2. Fasik
Orang fasik perumpamaannya mirip bencong lebay. Sudahlah jadi bencong, bangga lagi. Artinya, orang melakukan kemaksiatan di depan semua orang dengan watados..wajah tanpa dosa, padahal sebenernya dia tau itu dosa.
3. Kafir
Kalo ini sudah jelas; Orang yang ga mau mengakui Allah Swt sebagai Tuhannya, dan juga ga mau mengakui semua hukum-hukumNya.
Nah, oleh karena itulah maka generasi muda Islam harus betul-betul jeli mana yang boleh ditiru dari Barat dan mana yang tidak boleh. Harus jeli memilih cerdas memilah, supaya terhindar dari 3 gelar buruk di atas. Apalagi Rasul Saw pernah bersabda:
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti cara/jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb[5], niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari Muslim).
Wallahu a’lam,
رجال القدسي
[1] Thayeb Loh Angen, Malam Tahun Baru, Banda Aceh Laksana ‘Serambi Roma’, 3/1/9, www.harianaceh.com.
[2] Perayaan 1 Januari sebagai tahun baru pertama kali dilakukan pada tahun 45 SM. (Andi Rahmanto, Seputar Tahun Baru Masehi, 11/12/08, www.belajarislam.com)
[3] Kamus Sejarah Gereja, Drs. F.D. Wellem, M.Th., BPK Gunung Mulia, hal. 84.
[4] Gila (B. Sunda).
[5] Binatang sejenis biawak yang hidup di padang pasir.
__________
Semua gambar diculik dari:
1. http://sangprofesor.wordpress.com/2007/07/28/9-7-88/



