little company

Mr. Valentine da’Venting

In HyperDiary on 3 Februari 2010 at 10:10

ENTAH kenapa setiap bulan Pebruari mata saya sering ngedadak katarak. Liat terasi seperti ngeliat Silver Queen, liat bunga bangkai seperti ngeliat bunga mawar, liat batu bata seperti ngeliat Brownies Amanda, liat kebo seperti ngeliat Juliat Perez, dan..masih banyak lagi yang lainnya, yang pada intinya setiap bulan Pebruari segala sesuatunya jadi nampak serba pink dan serba coklat. Tapi anehnya, entah kenapa katarak seperti itu hanya terjadi di bulan Pebruari saja, bila bulan Pebruari berakhir, mata saya kembali ke sedia kala; Belekan.

Kelainan yang saya alami itu pernah saya konsultasikan kepada Dokter Ivan (bukan nama sebenarnya, tapi nama makhluk sejenis curut berkumis lele yang hobinya nyari cewe’ brondong di BIP). Dokter spesialis varises dan rorombéheun[1] ini mengatakan bahwa gejala yang menimpa saya itu adalah akibat dari infeksi virus H1N1+7-2×9÷4, yang di kalangan orang awam virus ini lebih dikenal dengan nama Virus Valentine.

——-

[1] Kaki pecah-pecah (Bhs. Sunda). Menurut mitos, penyakit ini sebabkan karena keseringan makan sop kaki badak. Biasanya, kaki pecah-pecah tersebut selalu disertai dengan gejala sariawan, tenggorokan kering, dan sulit buang air besar (ini rorombéheun atow panas dalam sih sebenernya?!).

——-

Virus ini, kata sang dokter, biasanya menyerang organ hati, otak, dan saraf. Menurutnya, ketika hati seseorang terkena Virus Valentine fungsi otaknya akan terganggu, sehingga ga bisa mikir normal, yang mengakibatkan gangguan pada saraf motorik kaki dan tangan, dengan gejala seperti selalu ingin pergi ke bioskop untuk nonton bareng pacar, mojok ke tempat sepi untuk bermesraan dengan gebetan, borong coklat dan mawar untuk kecengan, beli boneka Teddy Bear untuk selingkuhan, dll. Bila sudah begitu menurut Dokter Ivan, organ tubuh korban yang pada akhirnya nanti akan tersiksa adalah dompet.

Ya, betul sekali hadirin, memang terlihat sangat membingungkan. Bukan virusnya, tapi tulisan di atas yang membingungkan, asa teu nyararambung. Well, kalo kamu bingung..wajar, saya aja yang nulisnya bingung; “Ngomong apaan sih gw?!” Tapi, it’s oke, ga pa pa aga’ sedikit ngelantur juga, anggep aja ini latihan..latihan gila. Poko’nya, inti yang pengen saya sampaikan adalah; Setiap bulan Pebruari semua orang menjadi demam Valentine. Titik.

Entah dari mana asal mulanya virus gila yang satu ini, yang pasti sekarang ini penyebarannya sudah sedemikian parah. Ga hanya menjangkiti kalangan ABG saja, tapi juga menjangkiti orang-orang yang udah bangkotan, orang-orang dewasa, orang yang udah berkeluarga, bahkan mereka yang udah punya anak sebelas pun ada juga yang masih kecentilan Valentine-an. Fakta yang lebih menarik lagi adalah, virus ini tidak hanya berkembang di negara-negara Barat tempat dimana virus Valentine ini lahir, tapi ternyata di negera-negara yang penduduknya mayoritas muslim pun virus Valentine ini berkembang biak dengan pesatnya. Ruarrrrrr binasa!

Oleh karena itulah maka, ga terlalu berlebihan kalo saya katakan bahwa virus Valentine ini sekarang sudah menjadi sebuah wabah pandemi[2].

Valentine’s Day, yang kata orang Baleendah mah disebutnya papalentinan, memiliki beberapa versi sejarah[3]. Namun, dari sekian versi itu yang paling menarik untuk saya ceritakan disini adalah sejarah Valentine’s Day menurut versi seorang mahasiswa Jurusan Sastra Mesin Unpad angkatan ‘45 yang tidak mau disebutkan nama babehnya. Sang mahasiswa abadi tersebut mengatakan bahwa sejarah perayaan valentine itu katanya bermula dari kisah cinta seorang supir angkot Cisitu-Tegalega dengan seorang gadis penjual surabi[4] di Tegalega Bandung. Tapi nasipnya sungguh amat sangat tragis sekali, cinta mereka harus dipisahkan oleh takdir Satpol PP, karena sang gadis terkena razia PKL yang mengakibatkan dirinya dipenjara untuk waktu yang cukup lama. Betapa menghadapi kenyataan pahit seperti itu, sang cowo’ menjadi stres dan nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri..minum bajigur sepuluh galon, berikut Ubi Cilembunya lima piring, kacang rebus na tujuh bungkus.. (ini bunuh diri apa busung laper sih sebenernya?!).

Nah, begitulah hadirin sepenggal kisah cinta tragis dari dua sejoli yang melatarbelakangi perayaan Hari Valentine. Oya, nama “Valentine” itu sendiri, kata mahasiswa sastra mesin tadi, diambil dari nama sang sopir yang bunuh diri tersebut, yang memiliki nama asli Valentino Rosidin, yang biasa dipanggil Mamat Obeng. NB: yang bersangkutan ga ada hubungan sama sekali dengan Pak Tino Sidin[5], dan juga bukan siapa-siapanya Valentino Rossi[6]. Sumpah.

——-

[2] Pandemi: Wabah global, merupakan gejala terjangkitnya penyakit menular pada banyak orang dalam daerah geografi yang luas (Source: Tante Wiki).

[3] Liat beragam versi sejarahnya disini.

[4] 100% surabi asli, bukan surabi jadi-jadian, ga ada muatan politis apapun dibalik penggunaan kata surabi ini. Sumpah.. daék kasép daék beunghar.

[5] Seorang pelukis dan guru gambar yang terkenal di TVRI era 80-an, dalam acara “Gemar Menggambar”. Pada akhir setiap acara beliau selalu menunjukkan gambar2 yang dikirim oleh pemirsanya dan selalu berkomentar, “Bagus!” (Source: Tante Wiki).

[6] Seorang tukang tambal ban di parapatan Caheum. Dia pembalap Formula 1, dodol! Masa gitu aja mesti saya kasih footnote segala sih!? *emosi*

——-

Terlepas dari sejarahnya yang nampak begitu ngarang dan garing tersebut, yang pasti hari valentine sudah jadi tradisi yang ga bisa dipisahin dari dunia percintaan. Sehingga, ketika inget bulan Pebruari yang diinget itu pasti Hari Valentine. Dan ketika inget Hari Valentine yang diinget itu pasti coklat, mawar, atow boneka Teddy Bear. Bagi saya ini sangat mengherankan, kenapa ingetannya harus ke: Coklat, Mawar, atow Boneka?! Kenapa bukan ke: Cireng, Kupat Tahu, atow Sendal Jepit??!

Tapi kétang jangankan itu, penggunaan namanya aja saya masih bingung; Kenapa harus Valentine??? Kenapa bukan Vakarmin, Vaijo, atow Valurah??!

Well, meneketehe. Yang pasti, semakin banyak saya menelusuri kejelasan sejarah Valentine tersebut, wujudnya makin ga jelas, dan membuat saya makin bingung. Kebingungan saya itu, kalowlah mau jujur, sebetulnya sudah dimulai sejak 15 tahun yang lalu ketika saya pertama kali mendapatkan kiriman kartu valentine dari seorang cewe’. (Alhamdulillah, untungnya yang ngirim cewe’, coba yang ngirim gorila, tentunya saya akan makin bingung).

Pada saat menerima kartu valentine itu, jujur saja saya merasa senang, bahagia, dan sedih. Senangnya karena itulah pertama kalinya saya mendapatkan kiriman surat dari seorang cewe’. Bahagianya karena cewe’ yang ngirim surat adalah cewe’ yang waktu itu sedang saya keceng dengan sepenuh hati segenap jiwa. Dan sedihnya karena..saya ga ngerti apa itu Valentine (Emh..malang nian nasipmu nak, palentin aja kaga’ tau. -red).

Pas nerima kiriman surat itu, hati saya langsung berdebar-debar. Soalnya tuh surat sampulnya warna merah muda. Jelas, semua orang juga tau, itu adalah warna yang melambangkan perasaan cinta. Dan semakin berdebar-debar saja ketika saya melihat siapa pengirimannya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah cewe’ kecengan saya. “Oh my God! Mungkinkah ini surat cinta darinya?” begitulah kurang lebih apa yang berkecamuk dalam hati saya waktu itu.

Dengan perlahan namun pasti, saya buka perlahan-lahan sampul suratnya. Sangat hati-hati sekali memang, karena saya khawatir sampulnya rusak atow robek. Saya ga mau itu sampe terjadi pada surat pertama saya. Saya ingin surat pertama saya itu teteup awet dan utuh hingga akhir hayat nanti. Malah, biar lebih awet pengennya sih dilaminating di tempat fotokopian, terus dipigurain sekalian, lalu tambahin aer keras dikit. Tapi keinginan itu saya urungkan; Takut dibilang gila sama tukang fotokopinya.

Well, setelah dicoba, ternyata susah juga membuka sampul surat tanpa membuatnya robek. Seperti mencabut bulu ketek..walowpun pelan-pelan angger wé peureus. Begitulah yang terjadi dengan surat pertama saya itu..walowpun pelan-pelan angger wé gening soék akhirna mah. Arrrrggghhh!

Ketika sampul berhasil dibuka, saya keluarkan kartu yang ada di dalamnya. Jantung saya berdetak semakin kencang ketika melihat warna kartunya yang sama persis dengan warna sampulnya; Pink. “Oh Tuhan, mungkinkah ini benar pesan cinta darinya?” begitulah perasaan yang bergejolak dalam dada saya saat itu.

Tatapan saya langsung terpaku pada gambar cover depan kartunya; Teddy Bear yang sedang memeluk boneka berbentuk hati/love, dengan sebuah tulisan romantis di bawahnya: “Because you are the most special person in my world…Will you please, please be my Valentine?”

Twing..twing..twing! Kontan saja kalimat itu membuat badan saya jadi limbung dan mata menjadi aga’ sedikit berkunang-kunang. Mungkin karena saking senengnya kali ya. Mmh..atow jangan-jangan, gara-gara tadi pagi sarapan kadal goreng? Ah, entahlah, yang pasti perasaan saya saat itu sangat berbunga-bunga sekali.

Karena ga sabar ingin mengetahui apa isi tulisan di dalemnya, maka lipatan kartu itu saya buka dengan perlahan dengan sebuah modal keyakinan: “Ga bakal salah lagi nih, pasti isinya adalah pesan cinta darinya.” Dan betul saja hadirin, ketika lipatan kartu itu saya buka, maka terbacalah sebuah tulisan indah nan romantis yang menggetarkan hati, mengguncang kalbu, dan merontokkan bulu ketek. Tulisannya pendek, bunyinya: “Anda belum beruntung. Silahkan coba lagi.”

Sori, yang bener bunyinya begini: “Specially, because you deserve a lovely Valentine.” Lalu kalimat itu ditutup dengan sebuah kalimat sakti berikut: “Always remember me. With Love xxx[7]”.

Ketika lamunan saya sampe ke bagian itu, rasanya ingin sekali saya kembali lagi ke masa tersebut. Bukan apa-apa, saya hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi perasaan saya saat itu yang terpendam sekian lama dan tak pernah sempat terungkapkan hingga kini. Saya ingin sekali berkata kepadanya: “Rin[8], aku ingin mengakui dengan jujur kepadamu dari lubuk hatiku yang paling dalam bahwa aku sebenarnya..ga tau artinya Valentine.”

Sori, itu mah becanda, yang benernya sih saya ingin sekali berkata kepadanya: “Yes, i do. I wanna be your valentine.”

Tapi..lamunan itu tiba-tiba saja buyar ketika tanpa sengaja sebuah alunan lagu “Cinta”-nya The Fikr[9] masuk samar-samar ke telinga saya tanpa permisi:

Berlindunglah pada Allah

Dari cinta palsu

Melalaikan manusia

Hingga berpaling dariNya

Menipu daya dan melenakan

Sadarilah wahai kawan..

——-

[7] Sensor, privasi.

[8] “Rin” hanyalah nama panggilan. Sengaja nama aslinya sy sembunyikan spy para LiCo Fellow bisa bebas berimaginasi menebaknya. Silahkan bebas menebak namanya, boleh Airin, boleh Rina, boleh Rini,  atow “Rin” yg lainnya..yg penting jgn Rinto atow Ponirin (Lu pikir gw homo, apa!?).

[9] Silahkan dengerin lagunya disini.

——-

Aahhh, lirik lagunya itu sodarah-sodarah, tajem banget! Sampe sanggup membuyarkan lamunan saya. Bahkan  lebih dari itu..mencabik-cabiknya..break into peaces.

Sadar akan hasrat lamunan yang terlarang tersebut, maka segera saja saya hapus semua lamunan itu dari benak, lalu saya lipat, saya ikat, saya injak-injak, dan saya pipisin dikit, trus saya buang ke tempat sampah, kemudian saya kembali melanjutkan aktivitas sebelumnya yang tadi tertunda; Ngupil.

VALENTINE day’s tetap menjadi sebuah misteri bagi saya, dari sejak kiriman kartu Valentine pertama saya tersebut hingga kini. Semakin jauh saya telusuri sejarahnya semakin kelam wajahnya. Semakin saya dalami semakin suram riwayatnya. Sehingga akhirnya saya berkesimpulan, bahwa:

Valentine = Da’ Venting[10].

Eniwey, walowpun saya sudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa valentine itu ga penting, hal yang masih teteup menjadi sebuah ganjalan dalam pikiran saya sampe saat ini adalah, kalo wujud Valentine itu ga jelas juntrungnya, ga jelas sejarahnya, dan juga teu puguh riwayatnya, lalu kenapa orang-orang Islam sekarang banyak yang ngilu riweuh papalentinan???

Wassalam,

Fun Ja Bo

Sang Pujangga Cinta yang ga ngerti apa itu Valentine.

Ralat:

Tulisan “Tahun Baru Telah Tiba” pd rubrik Redhot yg ada di edisi 1 vol. 1 mestinya masuk di rubrik “HyperDiary”. Adapun rubrik RedHot sendiri rencananya akan dimunculkan di edisi besok, maksudnya..besok besok lagi aja deh kalo sempet.


[10] Ini bukan bahasa Itali, Spanyol atow Portugal, juga bukan bahasa Tegal. Ini bahasa Indonesia EYD, Ejaan Yang Diplesetkan, yang artinya “Tidak Penting”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: